laman

Kamis, 09 April 2015

Beratnya Perjuangan Mengambil Baglog Jamur

       Bulan ini baglog jamur tiram di kumbung jamur milik Kelompok Tani Elok Mekar Sari sudah waktunya diganti karena produksi jamur dari baglog sudah menurun bahkan jamurnya sudah kecil - kecil sehingga dijadikan pakan lele kami. Sebenarnya pemesanan baglog jamur sekarang ini, sangat terlambat karena kami akan mengalami kekosongan pasokan jamur segar tapi kami sangat beruntung mendapat bantuan pasokan jamur segar yang selalu siap diantar dari sesama kelompok tani di Surabaya hingga masalah kekosongan jamur bisa teratasi namun hal ini tidak boleh terulang, nanti setelah baglog jamur ditempat kami berumur 3 bulan, kami harus mulai pesan lagi. Sebuah pelajaran yang sangat berharga mengingat anggota Kelompok Tani Elok Mekar Sari banyak yang membuat olahan jamur tiram, yaitu keripik jamur krispi, sate jamur, abon jamur, nugget jamur, bakso jamur, siomay jamur, tahu baso jamur.
       Berhubung kami hanya pesan 500 baglog jamur ke Trawas karena sebelumnya sudah pesan di Sidoarjo maka kami harus mengambil sendiri ke Trawas. Pagi sekali kami bertiga berangkat naik pikep, yaitu saya, Bu Tri dan Bu Sonya dan sopirnya adalah Bu Tri, beliau sopir yang sangat bisa diandalkan oleh kelompok karena selain semua jenis mobil bisa juga beliau rajin ikut touring yang sangat menguji nyali, mulai Kawah Ijen Banyuwangi sampai keliling Bali sudah ditaklukkan. Jalanan menuju Trawas mulai menanjak dengan tekukan tajam, pikep terasa mulai panas dan mendengung sampai akhirnya kami harus berhenti dahulu agar mesin pikep dingin karena perjalanan masih jauh dan naik ke atas, sungguh tak terbayang, takut juga khawatir untuk meneruskan perjalanan. Semangat juang yang tinggi ternyata sanggup mengantarkan kami sampai ke tempat tujuan apalagi sepanjang jalan dihiasi lapak - lapak yang menjual petai, pisang, ubi merah, alpokat dan durian yang menumpuk, kata Mas Imron yang punya usaha membuat baglog mengatakan bahwa saat ini lagi musim durian. Keinginan melahap buah durian nan lezat harus ditunda sementara karena kami ingin mengambil baglog jamur dulu, pulangnya baru belanja dan makan durian sepuasnya.
        Tiba dirumah Mas Imron, satu persatu baglog jamur langsung dimasukkan ke bak pikep hingga penuh dan masih diberi bonus 5 baglog jamur yang sudah tumbuh tunas. Setelah semua selesai kami segera pamit dan sudah tak sabar mencicipi durian yang baru jatuh dari pohon yang pasti manis rasanya. Kami berhenti disebuah lapak dekat PPLH Seloliman, setelah ada kesepakatan harga dengan penjual durian maka aroma durian yang sedari tadi sangat menggoda, secepat kilat langsung dibelah   dan dimakan rame - rame sampai habis, tak terasa kulitnya yang berduri tajam sudah bertumpuk. Kami segera membeli beberapa untuk buah tangan, perjalanan menurun dan berkelok tajam sudah menanti didepan mata dan bagaimanapun harus dihadapi dengan penuh keberanian. Menuruni kelokan pertama lancar namun selanjutnya laju pikep sudah tak terkendali, pikep terus meluncur deras ke bawah padahal banyak tikungan tajam, saat itu saya belum tersadar karena saya pikir hanya gaya nyetirnya Bu Tri saja dan menghadapi turunan terakhir yang lebih curam dan panjang, Bu Tri mulai agak panik dan bilang remnya tidak berfungsi, baru saya pucat pasi karena dibawah terlihat sungai yang membentang dan terlihat beberapa orang melihat kami yang menurun dengan cepatnya, saya pikir semua akan berakhir di sungai tersebut. Dengan sigap Bu Tri membelokkan kemudi ke tempat aman yaitu jalan belokan yang agak landai dan kami sangat beruntung kondisi jalan sepi sehingga pikep bisa dibelokkan dengan aman.  Rasanya mak plonggg....kalimat syukur tiada berhenti terucap dari mulut kami. Itulah turunan terakhir yang telah berhasil kami lewati dan selanjutnya perjalanan dilalui dengan lancar sampai ditempat kami, perumahan Semolowaru Elok Surabaya.  
         Sampai dilahan belakang Balai RW 08 tempat budidaya Kelompok Tani Elok Mekar Sari, baglog jamur segera diturunkan dari pikep dan dipindah ibu - ibu ke dalam kumbung jamur. Baglogpun sudah tertata rapi semua di rak bambu dan nanti setelah baglog jamur warnanya putih semua atau miseliumnya sudah menyebar ke seluruh baglog maka sumpalan dimulut baglog, baru boleh diambil agar baglognya berproses sempurna dulu karena kalo sumpalan sudah terlalu dini diambil maka ketika air masuk ke dalam baglog maka baglog akan ditumbuhi lumut dan lama - lama baglog akan busuk, semut dan cacing akan masuk ke dalam baglog yang ujung - ujungnya panen yang dihasilkan tidak akan maksimal.  

                                          Perjalanan ke Trawas yang Luar Biasa Indahnya
1. Mobil Pikep Panas
2. Mengambil Air Jernih Langsung dari Mata airnya, Suegarr...
3. Sampai di Rumah Mas Imron, Pembudidaya Jamur Tiram dan Pembuat Baglog Jamur
4. Serunya Saat Belanja Buah

Rabu, 08 April 2015

Budidaya Lele Sangkuriang Sudah Dimulai

        Sebuah keputusan yang besar dan tergolong berani harus saya ambil ketika memutuskan mengganti kolam lele yang sejak mulai budidaya lele pada tahun 2013 memakai terpal dan sekarang menjadi kolam lele permanen. Ketika memakai terpal, hampir disetiap selesai panen lele, kami harus mengganti terpal karena berbagai sebab, pengaruh cuaca yang panas dan kering bisa membuat terpal rapuh hingga mudah robek juga gigitan tikus yang membuat terpal bocor dan yang lebih parah serta menyedihkan yaitu disaat belum waktunya panen, terpal ambrol karena beratnya beban air hingga terpal tak kuat menahannya. Walaupun sudah banyak yang memberi masukan agar membuat kolam permanen tapi saya tetap mempertahankan menggunakan kolam terpal karena untuk membuat kolam permanen, tentu membutuhkan dana yang besar hingga membayangkan saja, saya takut.
        Tapi segala ketakutan, langsung sirna ketika saya menyaksikan kejadian ambrolnya kolam terpal Kelompok Tani Elok Mekar Sari, mulai terpal yang mengelilingi kolam menggelembung besar dan akhirnya mengeluarkan suara keras ' blaaarrr ' dan rasanya semua sudah berakhir saat itu. Air kolam dengan derasnya keluar dari terpal bersama lele sangkuriang yang masih berumur 1 bulan, ibu - ibu sibuk menyelamatkan lele sedangkan saya hanya dingin terpaku karena kaget, kecewa dan sedih yang tiada terkira. Kolam tersebut kesayangan kami, airnya penuh, lelenya sehat dan gesit, saat memberi makan adalah saat yang paling ditunggu ibu - ibu yang piket karena lelenya berebutan makannya, sungguh merupakan hiburan tersendiri yang bisa menghilangkan penat setelah seharian bekerja keras hingga kami banyak menaruh harapan pada hasil panennya nanti. Akhirnya dengan tekad bulat, saya langsung gerak cepat yaitu sosialisasi ke anggota Kelompok Tani Elok Mekar Sari untuk memberitahukan rencana saya yaitu membuat kolam lele permanen dan saya mohon partisipasi anggota yang bisa berupa uang, bahan bangunan, makanan, minuman bahkan tenaga ataupun sekedar menengok disaat senggang dan pekerjaan besar tersebut akan dimulai besok pagi. Ternyata bak gayung bersambut, anggota begitu antusias membantu pembangunan kolam lele hingga pekerjaan yang berat terasa ringan dan cepat selesai. Ada yang menyumbang uang, membuatkan kopi, kue, nasi bungkus, buah dan banyak ibu - ibu yang setiap hari menengok pengerjaan kolam bahkan saat makanan dan minuman melimpah, kita bisa ikutan ngopi dan makan ditempat.
       Kolampun selesai sudah.... begitu gagah dan indahnya, halaman belakang Balai RW 08 terlihat semakin teduh dan asri hingga membuat siapapun betah duduk - duduk sambil bercerita segala hal. Kemudian kolam diisi air hingga tingginya 80 cm dan dikondisikan agar siap untuk dimasuki bibit lele. Setelah hampir 2 minggu menunggu, kolam sudah dipenuhi jentik - jentik dan berarti kolam sudah siap diisi bibit lele sangkuriang. Lele sangkuriang dipilih karena daya tahan tubuhnya bagus, tingkat kematian awalnya sangat rendah bahkan nol dan waktu panennya bisa lebih cepat dibanding jenis lele lainnya. Mas Yuedy Prasastyo dari Krian yang direkomendasikan oleh Penyuluh Pertanian kami sebagai pendamping kami dalam berbudidaya lele karena beliau adalah pembudidaya lele yang sudah berhasil dan tidak pelit ilmu juga selalu telaten melayani pertanyaan dari kami. Usaha pembenihan yang dilakukannya sudah berkembang dan kini sudah menambah kolamnya di daerah Wiyung. Benih lele yang kami pesan, akhirnya sudah ditebar dikolam baru kami dan kami sangat optimis 2 bulan lagi Kelompok Tani Elok Mekar Sari akan panen raya lele sangkuriang !
                       Selamat Tinggal Kolam Terpal dan Selamat Datang Kolam Permanen !
                                 Kolam Lele Kelompok Tani Elok Mekar Sari yang Baru
                Pengisian Benih Lele Sangkuriang Ukuran 9 cm oleh Mas Yuedy Prasastyo 

Selasa, 31 Maret 2015

Jalan2 ke Jogjakarta....Geratissss

          Perjalanan kali ini memang tidak diagendakan khusus dari Kelompok Tani Elok Mekar Sari, setelah melihat Kas Kelompok Tani Elok Mekar Sari menggelembung akhirnya kami menimbang 2 pilihan yaitu membeli kaos kelompok atau pergi berlibur sambil melepas penat usai mengerjakan seabrek aktivitas di kelompok yang sangat menyita waktu, tenaga dan pikiran hingga sudah saatnya kami menyegarkan pikiran agar bisa berkarya lebih banyak lagi. Dengan alasan kaos kelompok sudah banyak maka kami memilih berlibur ke Jogjakarta selama 2 hari 1 malam dan bermalam di sekitar Malioboro sehingga bisa sepuas - puasnya menikmati wisata dan kuliner di sekitar Malioboro. Persiapan yang kami lakukan hanya sekitar 2 minggu dan kami langsung tancap gas, mulai mendata anggota yang ikut, pesan tiket kereta api Surabaya Jogjakarta pulang - pergi, angkutan ke Stasiun Gubeng  pulang - pergi, angkutan dari Stasiun Lempuyangan - Hotel pulang - pergi, pesan kamar hotel dan lain - lain. Setelah semua persiapan selesai dan tanpa kendala yang berarti maka tinggal berangkat pada tanggal 28 sampai 29 Maret 2015.
          Pagi ini semua sudah siap dengan kaos merah yang bertuliskan ' ELOK MEKAR SARI, yes ! ' begitu terasa spirit of rednya sangat kental hingga keberadaan kami sangat mencuri perhatian di Stasiun Gubeng Baru. Kamipun segera berbaris rapi untuk menunggu pemeriksaan tiket masuk dan segera melangkahkan kaki ke dalam stasiun yang disambut dengan alunan live musik nan merdu mendayu kemudian kami duduk sejenak menikmati tembang - tembang lawas yang sudah tidak asing ditelinga maka kamipun segera beranjak menuju pemberhentian kereta api. Banyaknya bawaan kami, tak menjadi penghalang untuk jalan kesana - kemari sambil terus bersenda gurau tiada henti. Selain baju ganti, kami juga membawa bermacam kue, gorengan yaitu lentho, ote - ote, tahu kuning kediri, menjes ( tempe enthek ), buah, keripik usus, rujak buah dan nasi kotak. Benar - benar sebuah perjalanan yang rame dan menggendutkan sudah terbayang bakal semakin mekar saja.
          Kereta Api Pasundan mulai merangkak perlahan meninggalkan Stasiun Gubeng Surabaya menuju Stasiun Lempuyangan Jogjakarta dan tanpa terasa kami sudah melewati beberapa stasiun kota hingga sampai di Stasiun Lempuyangan. Dengan naik mobil sewaan dari stasiun kami sampai ke Hotel Kurnia di Sosrowijayan yang dekat dengan Jalan Malioboro. Tiba di hotel kami langsung tancap gaspol dengan bergegas mandi karena kami tidak ingin kehilangan waktu sedikitpun saat berada di Jogja tercinta ini walaupun gerimis mulai membasahi bumi tak menyurutkan langkah kami untuk menjelajah kota budaya nan penuh nostalgi. Kami berangkat ke pabriknya Bakpia Pathok 25 dengan naik becak, disitu kami bisa langsung melihat pembuatan bakpia yang paling beken di Jogjakarta dan yang terpenting kami bisa mencicipi tester bakpia yang masih hangat dan lembut di lidah. Puas didapurnya Bakpia Pathok 25, kami lanjutkan memanjakan lidah lagi dengan menikmati kuliner yang sangat super hot banget, yaitu oseng - oseng mercon yang terdiri dari lemak sapi yang lembut dicampur dengan cabe rawit dan dimasak dengan menggunakan arang hingga masakannya mempunyai aroma yang khas sedangkan banyaknya cabe rawit membuat rasa puedassnya nagih apalagi disajikan panas - panas ditambah sepiring nasi putih yang menjadi sajian kuliner nan menantang untuk dicoba dan sayang bila dilewatkan begitu saja. Saat beranjak malam kami menghabiskan dengan jalan - jalan sepanjang Malioboro sambil melihat lapak - lapak pedagang kaki lima yang menjajakan beragam barang aneka macam dengan harga yang sangat terjangkau, tentu saja bila kita pandai menawarnya. Hujan semakin deras namun semangat tetap membara untuk terus menjelajah jantung Jogjakarta namun kami harus kembali ke hotel dulu karena sudah ditunggu oleh Bu Tamto, beliau dahulu adalah bendahara Kelompok Tani Elok Mekar Sari dan sekarang sudah bermukim di Jogja. Setelah puas melepas kangen bersama beliau akhirnya beliau pamit pulang dan kami mendapat oleh - oleh tape ketan, emping melinjo dan lemper ayam. Bu Tamto adalah bendahara mulai awal berdirinya Kelompok Tani Elok Mekar Sari dan beliau sangat tahu dan merasakan bagaimana beratnya kami mengumpulkan kas awal dengan membuat nugget sampai dini hari dan berjualan nugget kemana - mana. Bu Tamto.... ibu selalu menjadi bagian dari kami dan penyemangat kami untuk terus maju dan berani menghadapi segala tantangan juga rintangan didepan. Saat menjelang tengah malam, kami meneruskan keinginan untuk menikmati sensasi jalan - jalan di Malioboro, ternyata derasnya hujan tak membuat jalanan sepi tapi malah sebaliknya masih banyak yang menikmati kuliner malam termasuk Nasi Kucing Pak Bos yang berada didepan Mall Malioboro, ramai dikunjungi muda - mudi. Nasi putih sekepal ditambah bihun dan oseng tempe sanggup mengganjal perut untuk melawan dinginnya udara malam yang terasa menusuk hingga tulang. Lewat tengah malam, kami baru sampai ke hotel dan meneruskan ngobrol ringan sampai menjelang dini hari.
          Setelah sarapan nasi goreng spesial ala Hotel Kurnia dan ditemani secangkir teh manis hangat maka kamipun melanjutkan perjalanan ke Pasar Beringharjo untuk belanja baju batik, celana batik, tas batik, sandal batik, dompet batik, kerupuk rambak, melinjo dan mente. Tak lupa menikmati kuliner didepan Pasar Beringharjo, yaitu nasi gudeg dan pecel mie juga gorengan. Hari ini, belanja sudah, jalan - jalan sudah, menikmati kuliner juga sudah, berarti kami harus kembali ke hotel dan bersiap pulang ke Surabaya. Sekarang tas yang kami bawa dari Surabaya sudah beranak pinak karena banyaknya belanjaan ibu - ibu yang siap dibagikan untuk keluarga, kerabat dan tetangga dirumah. Puas sudah menikmati Jogjakarta walau hanya 2 hari, daya tariknya membuat kami selalu ingin kembali dan kembali lagi. Kereta Api Pasundan sudah mulai meninggalkan Jogjakarta dan sekarang saya mulai membayangkan dan merindukan seraut wajah ibu saya yang pasti sudah berdiri di stasiun untuk menunggu kereta yang saya tumpangi berhenti di Stasiun Nganjuk, sambil membawakan makanan kesukaan saya, bungkusan nasi pecel yang sangat sederhana hanya berlauk peyek beserta rebusan pisang hasil kebun belakang. Ibu..... terima kasih untuk segala kasih sayang dan pengorbananmu yang tak pernah mengharap balas. 


Stasiun Gubeng Surabaya, Tut.....Tut....Tut.....     
Ayooooo Makan............. Biar Tenang
Stasiun Lempuyangan Jogjakarta, Kami Datang...
Sampai di Hotel Karunia, Sosrowijayan Jogjakarta
Jalan - Jalan Sore di Jogjakarta
Semangkok Wedang Ronde yang Sanggup Menghangatkan Badan Disaat Hujan Begini 
Oseng - Oseng Mercon yang Begitu Terasa Ledakannya
Kembali ke Hotel Karunia, Ada Bapak dan Ibu Sutamto yang Kini Menetap di Jogjakarta (Beliau dulu Bendahara Kelompok Tani Elok Mekar Sari )
  Disaat Waktu Senggang, Tetap Menggelar Pertemuan Kelompok Tani Elok Mekar Sari
Saatnya Jalan - Jalan Tengah Malam di Malioboro
Mencicipi Lezatnya Gudeg Jogja yang Tiada Duanya
Pasar Beringharjo yang Melegenda
Pecel Mie Khas Jogja
Tiba Saatnya Untuk Pulang ke Surabaya