laman

Sabtu, 28 September 2013

Pelatihan Budidaya Jangkrik, Seru Abis !

        Bulan September ini benar - benar bulan penuh pelatihan, hal ini tentu saja disambut rasa antusias yang luar biasa dari anggota Kelompok Tani Elok Mekar Sari. Memang saya akui setiap ada tawaran mengikuti pelatihan, baik yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Kota Surabaya maupun dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, kami selalu bersemangat membara untuk mengikuti bahkan penentuan yang bakal berangkat pelatihanpun ada pembahasan khusus, hal ini bertujuan untuk pemerataan peserta pelatihan agar tidak itu - itu saja yang dikirim pelatihan, sampai bila yang diminta berangkat harus satu orang saja, kami lakukan lotre. Aturannya adalah beberapa orang yang bersedia ikut pelatihan, namanya ditulis di potongan kertas lalu semua potongan kertas digulung kecil - kecil dan dimasukkan ke dalam wadah lalu dikocok sampai keluar 1 gulung kertas tadi dan siapapun yang namanya tertera dikertas berarti harus siap berangkat pelatihan dan tidak boleh  dialihkan ke orang lain. Kami semua menyadari bahwa pelatihan - pelatihan tersebut akan banyak manfaatnya bagi kami, selain ilmu dan ketrampilan akan bertambah juga jaringan pertemanan semakin luas, karena kami masing - masing mempunyai usaha yaitu makanan, minuman dan kerajinan daur ulang sehingga bisa sekalian tukar pikiran dan promosi produk kami. Apalagi pelatihan tersebut diberikan secara gratis, dapat konsumsi dan uang transport, saya bayangkan bila harus mengikuti pelatihan pribadi tentu harus merogoh kocek sendiri dengan jumlah yang tidak sedikit. Maka kami sangat bersyukur sekali mempunyai wadah kelompok tani yang merupakan binaan dari Dinas Pertanian, sehingga banyak kemudahan dan fasilitas yang diberikan  untuk membantu kita agar bisa mandiri dan sejahtera. Bahkan beberapa ibu - ibu anggota poktan elok mekar sari mulai tergerak untuk  berwirausaha setelah mengikuti pelatihan, padahal sebelumnya hanya sebagai ibu rumah tangga biasa yang setiap hari banyak beraktivitas didalam rumah. Contoh dari beberapa ibu - ibu yang sudah berwirausaha setelah mengikuti pelatihan, yaitu pada pelatihan Diversifikasi Pengolahan Ikan di KUB. Srikandi Mina Surabaya pada tanggal 16-19 April 2012 yang dikirim Bu Sonya, sampai sekarang Bu Sonya masih berwirausaha dengan membuat tahu bakso ikan dan siomay ikan, yang ilmunya didapat dari mengikuti pelatihan tersebut. Ada lagi seperti Bu Tri Mulyani yang punya usaha bakso rumput laut yang laris manis, Bu Supra dengan dodol rumput lautnya, Bu Ermien dengan minuman rumput laut juga Bu Riyani dengan manisan rumput lautnya serta Mbak Lia dengan permen dan coklat rumput laut andalannya, ide dan ilmunya didapat setelah mengikuti pelatihan Dasar Pengolahan Rumput Laut di Bapak H. Damanhuri, CHCM. Dan masih banyak lagi pelatihan yang menginspirasi kami untuk menghasikan sesuatu yang bisa dan layak untuk dijual. Mengingat begitu banyak keuntungan yang diperoleh dengan adanya pelatihan - pelatihan tersebut, maka kami selalu menunggu diundang mengikuti pelatihan apapun dan dimanapun.
       Dimulai tanggal 9-10 September 2013, adanya pelatihan Bimbingan Teknis Pengolahan dan Pengemasan Bandeng yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur di Hotel Utami Sidoarjo. Wakil dari poktan adalah Bu Rini Ariyanti.
       Tanggal 11-13 September 2013, ada pelatihan Pengolahan Rumput Laut Menjadi Bahan Non Konsumtif yaitu praktek membuat sabun mandi, lotion, cream wajah dan pengharum ruangan yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur di Hotel Suncity Sidoarjo. Wakil dari poktan adalah Bu Tri Mulyani.
       Tanggal 24 September 2013, ada pelatihan Pengolahan Jamur Tiram menjadi abon jamur, nugget jamur dan jamur crispy yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Kota Surabaya. Wakil dari poktan adalah Bu Rini Ariyanti, Bu Ermien Setyowati, Bu Estining Silo Wardhani, Mbak Lia, Bu Tri Mulyani.
       Tanggal 25 September 2013 pelatihan Budidaya Ternak Jangkrik yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Bidang Peternakan Kota Surabaya. Wakil dari poktan adalah Bu Ary Widiastuti, Bu Mukhtamaroh, Bu Supra, Bu Riyani Viyantini, Bu Retno Dumilah. Kami berangkat beriringan naik sepeda motor menuju ke Dinas Pertanian Kota Surabaya di Jalan Pagesangan, Bu Nani PPL ( Penyuluh Pertanian Lapangan ) kami sudah menunggu didepan kantor. Karena peserta masih belum ada yang datang maka Bu Nani mengajak kami berkeliling kebun milik Dinas Pertanian, dan yang paling menarik perhatian kami adalah melihat ruangan kumbung jamur karena kami akan mencontoh model rak tempat baglog dikumbung jamur Dinas Pertanian. Memang saat ini bertepatan dengan waktunya pembenahan kumbung jamur milik Kelompok Tani Elok Mekar Sari, setelah selesainya masa panen kemarin. Ternyata kami tidak bisa mencontoh model rak disini yang terlihat bagus dan tertata rapi serta bisa naik turun menyesuaikan jumlah tumpukan baglognya karena di Dinas Pertanian bahan raknya terbuat dari kayu yang pinggirannya lurus - lurus saja sedangkan rak jamur kami dari bambu yang pinggirannya tidak rata. Akhirnya kami kembali ke ruang pelatihan lagi, situasi masih sepi padahal hari sudah siang, padahal yang diundang ada 40 peserta calon penerima bantuan ternak dari Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Surabaya yang sudah terseleksi. Macam bantuannya antara lain : ternak jangkrik, ternak kelinci, ternak kambing dan ternak burung kenari. Sedangkan salah satu syarat menerima bantuan tersebut harus mengikuti Bimbingan Teknis Budidaya Peternakan dan Petunjuk Teknis Budidaya Jangkrik ( sesuai jenis ternak yang akan kita terima ). Untuk itulah kami isi waktu dengan bercanda dan ngobrol sekenanya sambil sesekali membaca makalah yang sudah diberikan oleh panitia.
       Saat hari menginjak siang, beberapa peserta mulai berdatangan dan acarapun segera dimulai dengan pembicara pertama yaitu Bapak Tamtomo Prayitno yang menyampaikan judul Pemberdayaan Masyarakat dan Dinamika Kelompok. Ringkasannya adalah Sebuah kelompok tidak harus banyak orang yang penting mempunyai tujuan yang sama dan aturan yang telah disepakati. Dengan berkelompok kita bisa menjadi berdaya atau mandiri serta mampu menemukan peluang dan memanfaatkannya. Sedangkan tujuan utama mendirikan kelompok adalah kesejahteraan bersama. Bantuan Pemerintah Kota Surabaya diberikan untuk kelompok - kelompok daripada bagi individu. Setelah penjelasan dari Bapak Tamtomo berakhir, dilanjutkan Bapak Antok dari Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Surabaya, beliau menjelaskan tentang Petunjuk Teknis Budidaya Jangkrik yang meliputi persiapan kandang dan peralatannya, pemilihan bibit indukan, pemeliharaan jangkrik, penetasan telur jangkrik serta panen jangkrik. Adanya keterkaitan antara bibit, pakan dan manajemen yang bagus, merupakan kunci sukses dalam usaha budidaya ternak. Penjelasan selanjutnya dari Drh. Novia tentang Penyakit Hewan. Pada jangkrik belum ditemukan adanya penyakit serius sedangkan hama pengganggu adalah semut, tikus cecak, dan ular yang dapat diatasi dengan kaki kandang diolesi minyak tanah atau minyak oli. yang terpenting kebersihan dan kelembaban kandang harus selalu terjaga. Setelah selesai semua, di penghujung acara ada tinjauan lapangan. Disana bisa melihat budidaya jangkrik dan bertanya sebanyak - banyaknya tentang cara budidaya tersebut. Ibu -ibu Kelompok Tani Kelompok Tani Elok Mekar Sari sangat bersemangat sekali meninggalkan ruangan pelatihan, dengan langkah tergesa - gesa kami berlima menuruni anak tangga, bukannya seperti peserta yang lain yang langsung menuju kandang jangkrik tapi kami sibuk mencari tempat yang nyaman untuk makan siang  dengan menu yang menggoda selera, yaitu nasi padang lengkap dengan sambal hijaunya. Urusan perut memang tidak bisa ditunda sedikitpun, selesai makan istirahat sebentar lalu berfoto disekitar pendopo Dinas Pertanian Kota Surabaya. Kami lalu melanjutkan langkah ke halaman belakang, tempat kandang jangkrik berada, Disitu sudah ada Bapak Antok yang menjelaskan langkah - langkah budidaya jangkrik, banyak pertanyaan yang dilontarkan oeh ibu - ibu yang membikin pembimbing tertawa terpingkal - pingkal, misalnya kapan saatnya jangkrik mulai kawin dan lain - lain. Suasanapun jadi ramai, tapi akhirnya pelatihanpun usai dengan lancar dan sepulang kami dari sini, kami bersiap - siap membuat sosoran untuk tempat kandang jangkrik berteduh. Ayooo kerja lagi...    


                                                                           
Saatnya makan siang yang bergizi                                                                                                                                                                                             
Dibawah pohon jambu air pun, bisa bergaya...
Serius belajar budidaya jangkrik

Budidaya kroto yang sanggup mencuri perhatian kami



Jumat, 20 September 2013

Bu Camat Berkunjung ke Poktan

      Terik matahari yang menyengat kulit, membuat saya mengurungkan niat untuk menengok perkembangan anak ikan lele yang baru ditebar, panjangnya masih sekitar 8 cm. Karena masih proses adaptasi dengan lingkungannya yang baru, maka masih banyak yang mati. Apalagi air di tempat kami masih air sumur yang asin, berbau karatan serta berwarna kekuningan sehingga sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup ikan juga tanaman urban farming. Untuk itulah harus dicoba jenis ikan dan tanaman yang cocok dengan kondisi seperti itu. Untuk jenis ikan yang gampang beradaptasi dengan kondisi tersebut kami lebih memilih lele karena kami pernah berhasil sampai panen 22 kg sedangkan kalau ikan nila pernah dicoba tapi kurang berhasil karena ikannya tak bisa hidup dengan kondisi air seperti itu sedangkan antisipasi untuk tanaman dengan cara kami memilih tanaman yang merambat yang berdaun lebar dan tebal yaitu tanaman labu putih, ternyata hasilnya sudah panen beberapa kali. Jadi kami dituntut untuk bisa menyiasati kondisi air yang seperti itu, tapi tetap bisa untuk budidaya lele dalam kolam terpal, budidaya jamur tiram dan menyiram tanaman urban farming. Kita tidak akan bisa kalau tidak pernah berani mencoba.
       Melalui telpon Bu Eddy mengabarkan bahwa saya sudah ditunggu Bu Camat Sukolilo yang baru yaitu Bu Kanti Budiarti di Balai RW 08 Kelurahan Semolowaru, untuk melihat kebun Kelompok Tani Elok Mekar Sari. Dengan tergesa - gesa saya dan Bu Retno langsung meluncur ke Balai RW 08, Bu Camat sudah menunggu di teras Balai RW, dan beliau segera menyapa kami. Segera kami masuk ke halaman belakang Balai RW 08 lewat pintu samping, beliau melihat kumbung jamur kami yang sudah kosong karena masa panen jamur sudah habis sedangkan baglognya sudah dibeli Pak Aditya dari Waru - Sidoarjo untuk media beternak ulat dan akan segera dimulai program renovasi kumbung jamur. Bu Retno selaku penanggung jawab bidang usaha budidaya jamur tiram menjelaskan bahwa kumbung jamur kami diisi 3000 baglog dan masa panennya sudah 6 bulan sehingga harus ada penggantian baglog baru, kami sudah pesan yang datangnya 40 hari setelah tanggal pemesanan. Bangunan kumbung jamur kami merupakan bantuan dari Dinas Pertanian Kota Surabaya beseta baglognya. Total hasil panen jamur tiram sebanyak 400 kg, untuk pemasarannya kami sangat terbantu dengan media internet, terutama dengan adanya blog dari Kelompok Tani Elok Mekar Sari sehingga dalam urusan pemasaran jamur tiram yang panennya setiap hari tidak ada kendala yang berarti. Kemudian Bu Kanti melihat kolam terpal kami tempat budidaya ikan lele, ternyata terlihat beberapa ikan lele yang masih berukuran 8 cm mengapung terbalik tandanya lele tersebut sudah mati. Juga tanaman urban farming yang daunnya banyak berwarna kuning kecoklatan dan sebagian tinggal batang yang kering, sungguh pemandangan yang mengenaskan. Setelah saya jelaskan kondisi air sumurnya, beliau terkejut soalnya beliau kira kami memakai air PDAM mengingat kami tinggal di perumahan Semolowaru Elok. Untuk pemecahan persoalan air, beliau nantinya akan menugaskan Bapak Lurah Semolowaru untuk membantu kami menyelesaikannya. Mungkin karena kami sama - sama perempuan jadi pembicaraan lebih cair dan terbuka tanpa ewuh pakewuh, sehingga semua berjalan lancar dan apa adanya seperti sudah kenal lama dengan beliau.
       Walaupun pertemuan dengan Bu Kanti hanya sebentar tapi terasa hangat dan mengesankan,sehingga kejadian tersebut sulit untuk dilupakan begitu saja. Saya sangat kagum bila ada pemimpin seorang wanita, terlihat begitu tangguh, tegas, smart, brilliant, dan sangat peduli. Sayang, saat beliau tertarik tawaran saya untuk membeli buah tangan dari hasil olahan rumput laut buatan ibu - ibu anggota poktan yaitu permen rumput laut, coklat rumput laut, dodol rumput laut dan minuman rumput laut, ternyata ibu - ibu yang berproduksi tidak bisa dihubungi. Saya merasa sangat sedih dan kecewa sekali karena gagal mempromosikan produk andalan Kelompok Tani Elok Mekar Sari kepada Bu Kanti. Tapi beliau berusaha menghibur kami, suatu saat bila ada waktu luang akan mampir lagi kesini. Akhirnya beliau berpamitan kepada kami untuk melanjutkan tugasnya di Kecamatan Sukolilo, kamipun melepas beliau dengan berbagai rasa yang campur aduk di dalam dada. Rasanya masih tak percaya, kalau kami baru saja didatangi tamu istimewa yaitu orang nomor satu di Kecamatan Sukolilo. Selamat bertugas, buk !
         



        

Minggu, 15 September 2013

Pembenahan Bidang Usaha Perikanan

          Duduk - duduk dibawah pohon mangga yang rindang merupakan kegiatan favorit ibu -ibu bila sudah selesai melaksanakan tugas piketnya. Sambil melepas lelah setelah membasahi kumbung jamur, memberi makan lele, menyiram sayuran dan membersihkan halaman, ibu - ibu duduk berjajar sambil mata memandang sekeliling halaman disertai ngobrol serius tentang kemajuan dan kekurangan kinerja Kelompok Tani Elok Mekar Sari selama ini serta jadwal pelatihan dan bazaar yang harus diikuti, juga tamu - tamu yang akan berkunjung ke poktan. Disela - sela obrolan serius pasti ada celetukan atau bahasa yang terasa asing ditelinga kita, maklum kami berasal dari berbagai kota dan pulau sehingga bermacam bahasa dan logatnya ada disini. Hebatnya, tidak ada yang tersinggung dengan bahan gurauan kami, yang ada malah tambah promo keunggulan daerahnya masing - masing. Semua ini membuat kami semakin dekat dan selalu merasa kangen bila sehari tidak ketemu.
          Tiba - tiba saya merasa kurang nyaman dengan pemandangan di belakang tempat duduk kami. Tepatnya pada bangunan kolam lele yang terbuat dari terpal kami yang lumayan tinggi, dengan ukuran kolam 6 x 3 x 2 meter. Setip kami ingin turun ke dasar kolam ataupun naik ke atas kolam harus menggunakan tangga kayu, yang tidak semua ibu - ibu berani menaikinya. Terutama saya, rasanya malas sekali, kenapa hidup kok dibuat susah kalau yang mudah bisa. Ada beberapa kelebihan dan kekurangan yang saya rasakan dari pembuatan kolam terpal kami. Diantaranya, kelihatan dari luar bentuk bangunannya kaku dan kokoh yang terlihat sepintas seperti bangunan benteng pertahanan zaman Jepang sehingga membuat orang malas melihat dalamnya, tingginya bangunan kolam juga membuat ibu - ibu kesulitan saat memberi makan ikan karena harus naik tangga kayu atau kursi dulu baru kelihatan ikannya. Inginnya saat memberi makan lele, kami melihat lele - lele saling berebut makanan dengan ganasnya sehingga bisa menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Sedangkan kelebihannya kolam terpal tersebut relatif lebih aman dari pencuri ikan mengingat bangunannya yang tinggi membuat mereka akan sedikit kesulitan kalau harus menyerok ikan - ikannya. Adanya pipa paralon yang dibuat didasar kolam tujuannya untuk membuang air dikolam terpal dengan cepat dan bisa membuat ketinggian air kolam selalu terjaga karena bila air dikolam melebihi ujung atas pipa maka otomatis air akan keluar kolam lewat pipa yang sudah terpasang sehingga kolam akan terhindar dari penuhnya air yang tidak kita kehendaki. Saat santai seperti ini saya membayangkan bisa duduk - duduk sambil melihat ikan yang berenang riang didalam kolam. Sayapun usul untuk memendekkan kolam kami dan membuat kolamnya menjadi 2 buah sehingga bisa melihat ikannya dari dekat. Ternyata banyak yang mendukung pendapat saya, dan langsung kami panggil tukang yang akan mengerjakannya tanpa menunggu besoknya.
             Tanggal 30 Agustus 2013, kami mulai merenovasi kolam terpal Kelompok Tani Elok Mekar Sari, pertama - tama bangunan lama dari bambu digergaji jadi 2 secara horisontal, dan dibuatlah rangka kolam sebanyak 2 buah dengan ukuran 3 x 3 meter dan tingginya 1 meter dan  bangunannya terpisah. satu dengan yang lain. Rencananya memakai terpal lama yang kelihatannya masih bagus dan layak bila dipakai lagi. Akhirnya dengan segenap tenaga yang tersisa. terpalpun dicuci ibu - ibu, tidak disangka - sangka terpalnya menjadi retak - retak yang rentan bocor. Terpal lama akhirnya dipotong 2, dan dipasang dimasing - masing kolam terpal. Besoknya, terlihat ada air merembes disekitar kolam, maka kami langsung mencari sumber bocornya, ternyata sumbernya dari terpal lama yang sudah retak - retak akibat terkena cuaca panas lalu dingin juga beberapa kali kami turun kedasar kolam untuk membersihkan daun - daun mangga yang jatuh didalam kolam, pijakan kaki kami konon bisa membuat terpal bergesekan dengan kerikil - kerikil dibawah terpal kolam yang bisa berakibat goresan pada terpal dan air akan mudah merembes keluar, ditambah saat proses pencucian yang mungkin terlalu keras menggosoknya sehingga bisa memperparah kondisi terpal lama. Setelah itu kami putuskan akan membeli 2 terpal baru di Kramat Gantung.  Terpal oranyepun didapat, langsung dipasang diatas terpal lama, jadi satu kolam ada 2 terpal dengan warna yang berbeda yaitu biru dan oranye,  menurut kami pilihan warna terpal yang terang benderang, membuat ikan - ikannya akan terlihat jelas. Lalu diatas kolam terpal ditutup dengan paranet agar teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung, lalu kami pasangi gembok kunci, agar kolam kami aman dari tangan - tangan jahil karena lokasi kolam lele kami ditempat yang lumayan terbuka sehingga rentan dari segi keamanannya. Kamipun segera mengisi kolam dengan air setinggi 50 cm yang akan diendapkan terlebih dahulu selama beberapa hari, sebelum diisi ikan.
             Sabtu malam saya, Bu Doni dan Bu Sonya berangkat ke Pasar Ikan Hias Gunung Sari karena kalau Sabtu malam suasana pasar sangat ramai dan bermacam benih ikan baru datang dari luar daerah. Kami terus berjalan melewati setiap lorong pasar, sambil melihat - lihat beragam jenis ikan yang dipajang disitu dan perlengkapan untuk memelihara ikan, ada serok, akuarium berbagai ukuran dan bentuk, batu -batuan, pasir pantai, tanaman hias di air baik yang asli maupun dari plastik, mainan, dan pakan ikan. Setelah berputar - putar kesana kemari, akhirnya ketemu penjual benih ikan lele dumbo dengan ukuran 7 cm, yang kami cari dari tadi. Plooong rasanya sudah ketemu penjual benih lele, segera kami sepakati jumlah benih lele sekaligus harganya. Untuk 2000 benih lele kami harus merogoh kocek Rp 340.000,- sedangkan pakan untuk anak lele satu karung untuk yang kualitas super dihargai Rp 300.000,- . Setelah semua keperluan didapat, kamipun segera pergi untuk segera melepas benih lele ke kolam terpal kami. Tiba di halaman belakang Balai RW 08 Semolowaru Elok, hari mulai larut, terasa udara dingin menusuk sampai ke tulang ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Dengan dibantu penerangan dari lampu senter kecil milik Bu Doni, pelan - pelan tapi pasti kami mulai melepas ikatan kantung plastik benih lele, dan mulai melepaskan benih lele ke dalam kolam terpal kami, masing - masing berisi seribu benih lele. Begitu dilepaskan ke dalam air, terlihat benih lele mulai berenang kesana kemari dengan lincahnya. Untuk pemberian makannya baru diberikan besok sorenya, begitulah  kata para penjual ikan. Karena begitu asyiknya memandangi dan mengagumi setiap tingkah polah benih lele yang lucu dan menggemaskan, kami bertiga tidak sadar bahwa sekeliling kami sudah gelap gulita apalagi banyak pohon - pohon besar membuat suasana semakin sunyi senyap, hanya tiupan angin yang terasa mendesir - desir disekitar telinga kami. Begitu kami tersadar, langsung secepat kilat mengambil langkah seribu untuk segera meninggalkan halaman belakang Balai RW 08, apalagi kalau ingat cerita - cerita hantu dari orang -orang yang biasa tidur di Balai RW 08, rasanya tambah pengin lari sekencang - kencangnya tanpa menoleh ke belakang lagi.
             Minggu malamnya, saya, mbak Yatik dan Bu Gik menuntaskan pekerjaan terakhir yaitu menimbang pakan lele untuk pemberian pagi dan sore harinya. Setelah ditimbang, semua dikemas dalam kantong - kantong plastik ukuran seperempat kiloan, dan dimasukkan dalam karung plastik bekas tempat beras. Ditemani jagung bakar rasa super pedas ternyata sanggup mengusir kantuk yang sempat menyerang kami bertiga, tepat jam 24.00 WIB teng, pekerjaanpun akhirnya terselesaikan dengan tuntas..tas..tas..tas dan kamipun bisa mimpi indah malam ini.
             Semua pembenahan dari bidang usaha perikanan di Kelompok Tani Elok Mekar Sari, satu persatu mulai terurai dan terselesaikan. Pembenahan bangunan kolam terpal dan pengisian lele memakan waktu seminggu penuh. Kolam terpal yang semula hanya satu sekarang menjadi 2 kolam terpal yang pendek, pembenahan administrasi dan pembenahan kinerja penanggung jawab bidang usaha perikanan yang harus solid dan bisa bekerja secara team work. Semua biaya pembenahan tersebut dibiayai sepenuhnya oleh Kas Kelompok Tani Elok Mekar Sari, sebesar Rp 2.150.000,- . Sangat membanggakan sekaligus mengharukan, mengingat umur Kelompok Tani Elok Mekar Sari yang belum genap 2 tahun tetapi sudah bisa mandiri di berbagai bidang usaha. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa bagi kami. Semua ini terjadi karena kerja keras semua anggota kelompok yang tak kenal lelah dan tahan banting dalam menghadapi situasi dan kondisi apapun. Dukungan dan kepercayaan penuh dari keluarga,  baik dari suami maupun anak - anak yang telah memberi kesempatan pada kami para ibu untuk terus mengembangkan potensi diri di luar rumah membuat kami bisa berbuat sesuatu yang berguna bagi diri sendiri juga orang lain.
            Selamat bekerja untuk tim bidang usaha perikanan Kelompok Tani Elok Mekar Sari, semoga lancar dan sukses !
Model kolam terpal sebelum dilakukan pembenahan        

Proses pembenahan kolam terpal

Serunya berburu benih lele di Pasar Ikan Hias Gunung Sari

Pakan lele kualitas super siap dikemas

Pengurangan sebagian air kolam terpal untuk diisi air baru

Daun asem ( sinom ) siap dibuat minuman sinom suegeerr oleh Bu Eko Supra