RW.08 Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya - Jawa Timur
Jumat, 31 Juli 2015
Selasa, 28 Juli 2015
Panen Lele Sangkuriang yang Melimpah
Panen lele sangkuriang kami, harusnya dipanen pada 7 Juni 2015 karena saat itu tepat umur lele 2 bulan dan pembeli yang kebanyakan warga perumahan Semolowaru Elok RW 08 memang menginginkan lele dengan ukuran yang tidak terlampau besar harus tertunda sementara karena bertepatan dengan puasa ramadan. Alasan mereka tidak memilih lele yang besar karena rasanya kurang gurih atau cenderung hambar ( sepo ) bila digoreng juga saat dibuat olahan lainnya. Kamipun sebagai pembudidaya juga menginginkan lele dipanen tepat waktu karena akan menghemat biaya pakan, tenaga dan waktu anggota kelompok, namun berhubung saat panen di bulan puasa ramadan maka panenpun dengan sangat terpaksa diundur pelaksanaannya. Di bulan puasa kami banyak sekali kesibukan yaitu setiap sore menggelar bazar ramadan didepan masjid Al - Quddus di perumahan Semolowaru Elok selama hampir satu bulan juga kegiatan lainnya, misal : bazar ramadan yang diadakan Kecamatan Sukolilo juga ada lomba pahlawan ekonomi kota surabaya. Akhirnya disepakati panen lele mundur sebulan, jadi umur lele saat dipanen sudah 3 bulan.
Dari pagi segala peralatan segera disiapkan, karena lele dijual mentah seharga Rp 18.000,- dan digoreng ( lele penyet ) seharga Rp 20.000,- sampai Rp 22.500,- sedangkan pemberitahuan ke warga sudah 3 hari sebelumnya yang dilakukan melalui arisan PKK, posyandu, sms, bertemu langsung, dan lain - lain sehingga pada hari H daftar pembeli sudah panjang di papan tulis. Karena 2 kolam yang siap panen maka satu kolam dulu yang dipanen dan bila permintaan melebihi satu kolam maka akan kami ambilkan dikolam sebelahnya, ternyata satu kolam hasilnya 61 kg lele dengan ukuran besar - besar padahal prediksi pembimbing kami, hasil panen 2 kolam minimal 50 kg. Yang lebih seru lagi, banyak permintaan lele yang sudah digoreng, lengkap dengan sambal dan lalapannya, yaitu sekitar 50 kg lele yang harus siap kami goreng dan dikirim ke alamat pemesan. Mulai Kantor Kecamatan Sukolilo, Kelurahan Semolowaru, Kelurahan Klampis, Kelurahan Gebang, SDN Semolowaru 614 dan warga sekitar lokasi budidaya Kelompok Tani Elok Mekar Sari. Segera dilakukan pembagian tugas, ada yang panen, membersihkan lele, mencuci lele, membuat bumbu, membuat sambal dan menyiapkan lalapan, tenaga yang menggoreng lele, mengemas dan tenaga pengantar lele. Kami bekerja bahu - membahu sesuai tugas masing - masing, yaitu mulai jam 07.00 - 17.00 WIB, tanpa kenal lelah dan tiada kata menyerah.
Hari sudah gelap, cucian perabot yang menumpuk sudah bersih dan yang terpenting uang sudah penuh ditempatnya, hingga rasa penat seharian bergelut dengan lele seakan tiada terasa, sampai - sampai kami yang bekerja tidak sempat mencicipi lele goreng, walau seekorpun karena semua sudah laku dibeli orang !
Dari pagi segala peralatan segera disiapkan, karena lele dijual mentah seharga Rp 18.000,- dan digoreng ( lele penyet ) seharga Rp 20.000,- sampai Rp 22.500,- sedangkan pemberitahuan ke warga sudah 3 hari sebelumnya yang dilakukan melalui arisan PKK, posyandu, sms, bertemu langsung, dan lain - lain sehingga pada hari H daftar pembeli sudah panjang di papan tulis. Karena 2 kolam yang siap panen maka satu kolam dulu yang dipanen dan bila permintaan melebihi satu kolam maka akan kami ambilkan dikolam sebelahnya, ternyata satu kolam hasilnya 61 kg lele dengan ukuran besar - besar padahal prediksi pembimbing kami, hasil panen 2 kolam minimal 50 kg. Yang lebih seru lagi, banyak permintaan lele yang sudah digoreng, lengkap dengan sambal dan lalapannya, yaitu sekitar 50 kg lele yang harus siap kami goreng dan dikirim ke alamat pemesan. Mulai Kantor Kecamatan Sukolilo, Kelurahan Semolowaru, Kelurahan Klampis, Kelurahan Gebang, SDN Semolowaru 614 dan warga sekitar lokasi budidaya Kelompok Tani Elok Mekar Sari. Segera dilakukan pembagian tugas, ada yang panen, membersihkan lele, mencuci lele, membuat bumbu, membuat sambal dan menyiapkan lalapan, tenaga yang menggoreng lele, mengemas dan tenaga pengantar lele. Kami bekerja bahu - membahu sesuai tugas masing - masing, yaitu mulai jam 07.00 - 17.00 WIB, tanpa kenal lelah dan tiada kata menyerah.
Hari sudah gelap, cucian perabot yang menumpuk sudah bersih dan yang terpenting uang sudah penuh ditempatnya, hingga rasa penat seharian bergelut dengan lele seakan tiada terasa, sampai - sampai kami yang bekerja tidak sempat mencicipi lele goreng, walau seekorpun karena semua sudah laku dibeli orang !
Bersama Lurah Semolowaru ( Ibu Dra. Suwarti )
Anak - Anak Mencari Lele yang Hanyut Terbawa Air Kolam
Suasana Saat Menggoreng Lele
Daftar Pembeli Lele
Kamis, 02 Juli 2015
Sabtu, 27 Juni 2015
Rabu, 24 Juni 2015
Sabtu, 20 Juni 2015
Selasa, 16 Juni 2015
Tanda Tangan Mas Heru Gundul yang Fenomenal
Senangnya bisa bertemu kembali dengan Tim Jejak Si Gundul Trans 7, selain orangnya ramah - ramah dan sangat familiar sekali juga karena datang pertama ke Kelompok Tani Elok Mekar Sari untuk syuting pembuatan peyek jangkrik dan serundeng jangkrik pada 25 Oktober 2014 hingga saya pikir setelah selesai acara tidak ketemu lagi apalagi tugas mereka melakukan liputan keliling Indonesia.
Setelah dihubungi Mbak Merta dari Tim Jejak Si Gundul Trans 7 yang masih berada di Jakarta, akhirnya disepakati besok akan bertemu di rumah saya untuk membicarakan kegiatan yang akan dilakukan di Surabaya sehubungan dengan adanya Ulang Tahun Trans 7 yaitu Jalan Sehat di Taman Surya Surabaya yang sekaligus ada pameran program unggulan Trans 7 yang diantaranya Jejak Si Gundul yang tayang setiap hari Kamis sore jam 15.25 WIB. Mbak Merta menanyakan apakah pada hari Minggu, jadwal kelompok kosong karena akan diajak tampil sambil menggelar produk di stan Jejak Si Gundul. Walaupun sebenarnya acara kelompok padat dan berurutan, tapi gak masalah, demi bertemu dan tampil bersama Jejak Si Gundul, acara Minggu saya batalkan !
Dan besok sorenya, seperti yang sudah kami sepakati akhirnya bertemu dan rasanya seperti kami sudah berpisah bertahun - tahun. Dari Tim Jejak Si Gundul ada Mbak Merta, Mas Hermanto dan Mas Bramantya sedangkan Mas Gundul masih di Jogjakarta. Ngobrol kesana kemari dan intinya kami akan diajak tampil di stan Jejak Si Gundul pada hari Minggu di Taman Surya Surabaya. Selain menggelar bazar, kami juga menemani Mas Gundul masak Gulai Apel, Geplak Jahe dan Jangkrik Krispi. Malam sebelum acara, kami melihat lokasi stan dulu agar besok pagi tidak bingung lagi untuk mencari lokasi stan Jejak Si Gundul, kami ditemani Mbak Merta dan Mas Hermanto sedangkan Mas Bramantya sudah pulang ke Jakarta karena ada urusan keluarga.
Minggu pagi, kami sudah berangkat ke Taman Surya dan barang kami satu pikep penuh segera diturunkan dan ditata di meja juga menyiapkan meja untuk demo masak bersama Si Gundul. Usai jalan sehat, stan - stan UKM pilihan se - Kota Surabaya juga stan dari program unggulan Trans 7 langsung diserbu pengunjung dan seperti biasanya Bu Risma selalu mendatangi satu persatu stan, begitu tiba di stan kami, Bu Risma disambut hangat dan meriah oleh ibu - ibu yang memang sudah sering ketemu di acara - acara yang diadakan pemerintah kota hingga membuat tim jejak si gundul kaget melihat kedekatan kami dengan Bu Risma juga keakraban kami dengan Bapak Fikser, dulu Camat Sukolilo sekarang Kabaghumas Pemkot Surabaya. Bu Risma adalah sosok pejabat yang dekat dengan siapapun, sederhana, ceplas - ceplos, figur ibu yang sangat pemberani, apa adanya hingga kehadiran beliau begitu dirindukan warga Surabaya, keberadaan beliau diantara kami seakan tak bisa tergantikan oleh siapapun.
Dalam acara ini, ada kejadian yang tak saya duga karena sebetulnya kelompok kami dapat undangan dari Bapemas ( Badan Pemberdayaan Masyarakat ) Kota Surabaya untuk menggelar bazar bersama UKM pilihan se Kota Surabaya karena sulit dihubungi maka kami tidak diajak. Ketika mengetahui kami hadir di Taman Surya, Bapemas terkejut dan saya jelaskan bahwa kami diajak Tim Jejak Si Gundul Trans 7 untuk mengisi stannya. Sudah beberapa kali kami diajak bekerja sama dengan pihak swasta untuk mengisi program televisi juga berpameran bahkan sampai Jakarta Convention Centre membuat kami terbiasa bekerja terencana dan tepat waktu juga belajar memegang komitmen, namun semua itu sesuai dengan imbalan yang kami dapat, termasuk saat ini saya bisa mendapatkan tanda tangan Mas Heru Gundul bintangnya Jejak Si Gundul Trans 7 yang jago marut kelapa.
Kami berharap semakin banyak lagi pihak swasta yang tertarik untuk mengajak UKM di Kota Surabaya ini guna menggelar produknya yang sekaligus bisa dijadikan ajang pamer serta promosi karya kreatif dan inovatif dari masing - masing UKM. Dengan begitu kita tidak hanya bergantung dan menunggu kesempatan yang diberikan oleh pemerintah saja tapi berusaha menarik pihak swasta dengan keunggulan produk kita yang berbeda dengan yang lain.
Bazar di Taman Surya Surabaya Bersama Tim Jejak Si Gundul Trans 7
Mbak Merta Sibuk Menawarkan Jangkrik Krispinya Sembari Terus Dimakan Sendiri
Mas Hermanto, Es Tehnya Laris Manis Hingga Pinggangnya Pegal
Mas Heru Gundul, Memandu Acara Hiburan dan Pengundian Hadiah Doorprize Jalan Sehat
Dapet Tanda Tangan Bintang Jejak Si Gundul Trans 7 yang Selalu Keliling Indonesia
Mbak Merta Sibuk Menawarkan Jangkrik Krispinya Sembari Terus Dimakan Sendiri
Mas Hermanto, Es Tehnya Laris Manis Hingga Pinggangnya Pegal
Mas Heru Gundul, Memandu Acara Hiburan dan Pengundian Hadiah Doorprize Jalan Sehat
Dapet Tanda Tangan Bintang Jejak Si Gundul Trans 7 yang Selalu Keliling Indonesia
Harus Menikmati Lontong Balap, Sate Kerang dan Es Degan. Makanan Khas Suroboyo
Habis ... bis, Tak Bersisa !
Habis ... bis, Tak Bersisa !
Langganan:
Postingan (Atom)